Sewaktu simbah masih aktif ngaji di kampung, ujian dan cobaan seringkali datang. Salah satunya datang dari pihak-pihak yang tidak suka kepada aktifitas majelis ta'lim Nurul Haq, yakni dari rombongan para drunken masters alias pemabok. Cara yang mereka tunjukkan macem-macem. Mulai dari nggodain perempuan-perempuan yang ke masjid, atau nglecehin sohib-sohib yang aktif ngaji di majelis ta'lim Nurul Haq.
Wah lha iki, muride sunan Bonang liwatâ€, itu ucapan yang simbah masih inget. Atau ada juga yang nyeletuk, Pak haji-pak haji, urip ki mampir ngombe pak haji ayo ngombe bareng-bareng sini. Ha rak sansoyo kurang ajar.
Intensitas kebencian mereka pun dari waktu ke waktu meningkat, seiring dengan tekad sohib-sohib untuk mendatangi rumah-rumah mereka dan mendakwahi mereka. Herannya, meskipun kalo pas kongko bareng itu mereka suka bergaya arogan dan sok menangan, tapi begitu didatangi rumahnya dan diajak ngobrol secara person to person mereka ini gak ada apa-apanya. Dieeeem saja kalo diajak ngomong. Sehingga kita malah kasian. Tapi begitu kumpul di jalan, ha kok berubah jadi buto cakil.
Sohib-sohib simbah pun makin lama makin kesulitan mendakwahi mereka. Karena kebetulan tempat yang dijadikan kongkow dan mabok-mabok adalah rumah salah seorang polisi yang masih aktif. Tapi simbah selalu menghibur dan menyabarkan sohib-sohib itu. Meskipun pernah juga pada suatu malam masjid dilempari batu sama mereka.
Puncaknya adalah saat ada seorang pemabok terhuyung-huyung masuk emperan majelis ta'lim Nurul Haq dan nggacor gak karuan ke arah sohib-sohib. Salah satu yang simbah inget dia ngomong begini ,Aku ki jane yo pingin tobat cah, tapi angel. Ha aku isih seneng ngombe ngene kok. Aku yo pingin mlebu suargo¦ pingin ketemu karo Gustiii Allah
Singkat cerita sohib-sohib masih sabar nyadarkan mereka. Dan tetep semangat ndatangi rumah-rumah mereka. Meskipun sekian lama bergerak belum nampak hasilnya. Tapi simbah dan sohib-sohib yakin, Gusti Allah mboten sare. Dan ternyata betul.
Desa simbah jadi terkenal karena peristiwa heboh yang terjadi minggu berikutnya, yakni tewasnya tidak kurang dari 5 orang warga gara-gara nenggak pil koplo. Ramuan ampuhnya terdiri dari Kratingdeng, campur Ciu (sejenis arak), campur sprite, campur pil koplo. Entah apa sebabnya, yang jelas reaksi dari tercampurnya bahan-bahan tadi setelah diteliti di laborat, menghasilkan senyawa methanol alias spiritus. Nah, ya jelas modhar semua munyuk-munyuk itu.
Polisi turun ke lapangan. Tempat mabok-maboknya diobok-obok. Karena malunya, sang polisi yang tinggal disitu pindah rumah. Markas besar the Drunken Masters akhirnya kukut. Gak ada lagi yang berani kongkow disitu. Mayat-mayat pemabok itupun akhirnya juga diobok-obok untuk diotopsi, padahal dah diurug hampir seminggu. Herannya ada juga dari pemabok itu yang sudah punya cucu. Anak cucunya jadi menanggung malu. Bapak polah, anak kepradah.
Sejak peristiwa itu majelis ta'lim Nurul Haq jadi makmur. Bapak-bapak ibu-ibu dan simbah-simbah yang gak pernah ngambah majelis ta'lim Nurul Haq jadi mau diajak ke majelis ta'lim Nurul Haq. Pada mertobat nyari dalan padhang. Yah, ternyata kesabaran sohib-sohib simbah ada buahnya. Dan justru yang menyelesaikan masalah adalah Pil Koplo. Sejak saat itu kalo ada yang nyebut nama desa simbah selalu ada yang nambahin,Oo, itu desa Pil Koplo itu ya?
Mangkanya, pada mertobatlah sebelum telat. Jangan nunggu kena tuahnya Pil Koplo.
Wah lha iki, muride sunan Bonang liwatâ€, itu ucapan yang simbah masih inget. Atau ada juga yang nyeletuk, Pak haji-pak haji, urip ki mampir ngombe pak haji ayo ngombe bareng-bareng sini. Ha rak sansoyo kurang ajar.
Intensitas kebencian mereka pun dari waktu ke waktu meningkat, seiring dengan tekad sohib-sohib untuk mendatangi rumah-rumah mereka dan mendakwahi mereka. Herannya, meskipun kalo pas kongko bareng itu mereka suka bergaya arogan dan sok menangan, tapi begitu didatangi rumahnya dan diajak ngobrol secara person to person mereka ini gak ada apa-apanya. Dieeeem saja kalo diajak ngomong. Sehingga kita malah kasian. Tapi begitu kumpul di jalan, ha kok berubah jadi buto cakil.
Sohib-sohib simbah pun makin lama makin kesulitan mendakwahi mereka. Karena kebetulan tempat yang dijadikan kongkow dan mabok-mabok adalah rumah salah seorang polisi yang masih aktif. Tapi simbah selalu menghibur dan menyabarkan sohib-sohib itu. Meskipun pernah juga pada suatu malam masjid dilempari batu sama mereka.
Puncaknya adalah saat ada seorang pemabok terhuyung-huyung masuk emperan majelis ta'lim Nurul Haq dan nggacor gak karuan ke arah sohib-sohib. Salah satu yang simbah inget dia ngomong begini ,Aku ki jane yo pingin tobat cah, tapi angel. Ha aku isih seneng ngombe ngene kok. Aku yo pingin mlebu suargo¦ pingin ketemu karo Gustiii Allah
Singkat cerita sohib-sohib masih sabar nyadarkan mereka. Dan tetep semangat ndatangi rumah-rumah mereka. Meskipun sekian lama bergerak belum nampak hasilnya. Tapi simbah dan sohib-sohib yakin, Gusti Allah mboten sare. Dan ternyata betul.
Desa simbah jadi terkenal karena peristiwa heboh yang terjadi minggu berikutnya, yakni tewasnya tidak kurang dari 5 orang warga gara-gara nenggak pil koplo. Ramuan ampuhnya terdiri dari Kratingdeng, campur Ciu (sejenis arak), campur sprite, campur pil koplo. Entah apa sebabnya, yang jelas reaksi dari tercampurnya bahan-bahan tadi setelah diteliti di laborat, menghasilkan senyawa methanol alias spiritus. Nah, ya jelas modhar semua munyuk-munyuk itu.
Polisi turun ke lapangan. Tempat mabok-maboknya diobok-obok. Karena malunya, sang polisi yang tinggal disitu pindah rumah. Markas besar the Drunken Masters akhirnya kukut. Gak ada lagi yang berani kongkow disitu. Mayat-mayat pemabok itupun akhirnya juga diobok-obok untuk diotopsi, padahal dah diurug hampir seminggu. Herannya ada juga dari pemabok itu yang sudah punya cucu. Anak cucunya jadi menanggung malu. Bapak polah, anak kepradah.
Sejak peristiwa itu majelis ta'lim Nurul Haq jadi makmur. Bapak-bapak ibu-ibu dan simbah-simbah yang gak pernah ngambah majelis ta'lim Nurul Haq jadi mau diajak ke majelis ta'lim Nurul Haq. Pada mertobat nyari dalan padhang. Yah, ternyata kesabaran sohib-sohib simbah ada buahnya. Dan justru yang menyelesaikan masalah adalah Pil Koplo. Sejak saat itu kalo ada yang nyebut nama desa simbah selalu ada yang nambahin,Oo, itu desa Pil Koplo itu ya?
Mangkanya, pada mertobatlah sebelum telat. Jangan nunggu kena tuahnya Pil Koplo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar